Blog EntrySabar dan Shalat, Sebuah Harmoni Nov 13, '07 4:38 AM
for everyone

Sabar dan Shalat, Sebuah Harmoni

Alloh SWT berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS Al
Baqarah [2]: 153).

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit
ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. sabar ".(QS Al
Baqarah [2]: 155).

Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat". Demikian sabda
Rasulullah SAW. Hadis ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya
peranan shalat bagi seorang Muslim, sampai detail gerakan dan bacaannya
dicontohkan langsung oleh beliau.

Sejatinya, shalat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir,
olah gerak, dan olah rasa (sensibilitas). Ketiganya terpadu secara
cantik dan selaras. Kontemplasi dan riyadhah yang terintegrasi sempurna,
saling melengkapi dari dimensi perilaku/lisan (al bayan), respons
motorik, rasionalitas (menempatkan diri secara proporsional), dan
kepekaan terhadap jati diri--kepekaan dan kehalusan untuk merasakan
cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Yang menarik, Alquran kerap menggandengkan ritual shalat dengan sikap
sabar. Salah satunya dalam QS Al Baqarah [2] ayat 153, Hai orang-orang
yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Mengapa Sabar dan Shalat?
Secara etimologi, sabar (ash shabr) dapat diartikan dengan "menahan" (al
habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam
melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah.
Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan
Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]:22),

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya,
mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan
kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak
kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat
kesudahan (yang baik),

Sabar termasuk kata yang banyak disebutkan Alquran. Jumlahnya lebih dari
seratus kali. Tidak mengherankan, karena sabar adalah poros sekaligus
asas segala macam kemuliaan akhlak. Muhammad Al Khudhairi mengungkapkan
bahwa saat kita menelusuri kebaikan serta keutamaan, maka kita akan
menemukan bahwa sabar selalu menjadi asas dan landasannya. 'Iffah
[menjaga kesucian diri] misalnya, adalah bentuk kesabaran dalam menahan
diri dari memperturutkan syahwat. Syukur adalah bentuk kesabaran untuk
tidak mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan. Qana'ah [merasa
cukup dengan apa yang ada] adalah sabar dengan menahan diri dari
angan-angan dan keserakahan. Hilm [lemah-lembut] adalah kesabaran dalam
menahan dan mengendalikan amarah. Pemaaf adalah sabar untuk tidak
membalas dendam. Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya. Semuanya
saling berkaitan. Faktor-faktor pengukuh agama semuanya bersumbu pada
kesabaran, hanya nama dan jenisnya saja yang berbeda.

Cakupan sabar ternyata sangat luas. Tak heran jika sabar bernilai
setengah keimanan. Sabar ini terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama,
sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah,
bencana atau kesusahan. Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan
maksiat. Ketiga, sabar dalam menjalankan ketaatan.

Tidak berputus asa saat menghadapi hal yang tidak mengenakan merupakan
tingkat terendah dari kesabaran. Satu tingkat di atasnya adalah sabar
untuk menjauhi maksiat serta sabar dalam berbuat taat. Mengapa demikian?
Sabar menghadapi musibah sifatnya idhthirari alias tidak bisa dihindari.
Pada saat ditimpa musibah, seseorang tdak memiliki pilihan kecuali
menerima cobaan tersebut dengan sabar. Tidak sabar pun musibah tetap
terjadi. Lain halnya dengan sabar menjauhi maksiat dan melaksanaan taat,
keduanya bersifat ikhtiari atau bisa dihindari. Di sini manusia
"berkuasa" melakukan pilihan, bisa melakukan bisa pula tidak. Biasanya
ini lebih sulit.

Secara psikologis kita bisa memaknai sabar sebagai sebuah kemampuan
untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Dengan kata lain,
sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau
meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Difirmankan, Dan
orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd
[13]: 22).

Jiwa yang Tenang
Salah satu ciri orang sabar adalah mampu menempatkan diri dan bersikap
optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputusasaan,
melainkan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi di mana kita
harus "marah" misalnya, maka marahlah secara bijak serta diniatkan untuk
mendapatkan kebaikan bersama. Karena itu, mekanisme sabar dapat
melembutkan hati, menghantarkan sebuah kemenangan yang manis atas
dorongan syaithaniyah untuk menuruti ketidakseimbangan pemuasan hawa
nafsu.

Dalam shalat dan sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan
kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan
motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs
menjadi motivasi yang bersifat muthma'innah. Jiwa muthma'innah atau jiwa
yang tenang inilah yang akan memiliki karakteristik malakut untuk
mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. Hai jiwa yang tenang
(nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang
bening dalam ridha-Nya(QS Al Fajr [89]: 27-28).

27. Wahai jiwa yang tenang 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya.

Orang-orang yang memiliki jiwa muthma'innah akan mampu mengaplikasikan
nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi
kesabaran paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur,
pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada,
pandai menjaga kesucian diri, serta konsisten.

Tak heran bila Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan shalat sebagai
istirahat, sebagai sarana pembelajaran, pembangkit energi, sumber
kekuatan, dan pemandu meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki
berlimpah, shalatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup semakin
berat, shalatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu,
shalatlah pelepasannya. Khubaib bin Adi dapat kita jadikan teladan. Saat
menghadapi dieksekusi mati di tiang gantungan, Abu Sufyan memberinya
kesempatan untuk mengatakan keinginan terakhirnya. Apa yang ia minta?
Khubaib minta shalat. Permintaan itu dikabulkan.

Dengan khusyuk ia shalat dua rakaat. "Andai saja aku tidak ingin
dianggap takut dan mengulur-ulur waktu, niscaya akan kuperpanjang lagi
shalatku ini!" ungkap Khubaib saat itu.

Ya, shalat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya
kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri
shalat berkualitas adalah terjadinya dialog dengan Allah sehingga
melahirkan ketenangan dan kedamaian di hati. Komunikasi dengan Allah
tidak didasari "titipan" kepentingan. Dengan terbebas dari gangguan
"kepentingan" tersebut, insya Allah shalat kita akan mencapai derajat
komunikasi tertinggi. Siapa pun yang mampu merasakan nikmatnya berdialog
dengan Allah SWT, hingga berbuah pengalaman spiritual yang dalam,
niscaya ia tidak akan sekali melalaikan shalat. Ia rela kehilangan apa
pun, asal tidak kehilangan shalat. Jika sudah demikian, pertolongan
Allah pasti akan datang. Wallaahu a'lam

Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat

Laksanakan selalu 7 Sunnah harian :
Sholat Tahajjud, Membaca Al Qur'an;
Subuh di Masjid, Istighfar; Sholat Dhuha, Bersedekah, Jaga Wudhu terus
menerus


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help