bismillah's posts with tag: sabar dan shalat
| Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Habbirurahman El shirazy |
Novel ini berkisah tentang perjuangan seorang anak muda sederhana bernama Khairul Azzam, atau lebih dikenal dengan Irul, Abdullah, Kang insiyur -seorang mahasiswa mesir yang berjuang menghidupi ke3 Adikperempuan dan Ibu nya dengan berjualan Tempe dan Bakso, mungkin bagi sebagian Pribadi Azzam tidak bisa dikatakan sukses secara Akademik karena dia baru sanggup menyelesaikan S1 nya di mesir selama 9 Tahun karena dia lebih konsen dalam mengerjakan bisnis Tempe dan Bakso nya ketimbang ke melanjutkan kuliah.. demikian lah gambaran cerita dari Ketika Cinta bertasbih .. dan karena ini lanjutan dari KCB1 yang sebelumnya banyak mengisahkan kehidupan Azzam ke di mesir, sedangkan KCB2 memceritakan cita cita yang sempat tertunda hingga berakhir ending Azzam menikah dgn Anna -Anak seorang pengasuh besar pesantren kenamaan dijawa timur, yang cantik, pintar, lembut yang ternyata diam2 juga mencintai Azzam.
Kang Abik mampu menghadirkan cerita cinta yang menghanyutkan dan menyentuh pembacanya .Novel ini kaya akan nutrisi yang membangun dimana Hidup adalah perjuangan, dalam peribahasa Arab Man Jadda wa Jadda siapa yang bersungguh akan berhasil .dan orang sukses adalah orang yang memperjuangkan cita citanya dengan sepenuh hati , sekuta jiwa dan dengan kesungguhan Doa tentu nya ... Sore itu ditengah panggung utama Indonesian Bookfair ke 27 yng berlangsung 4 hari di JCC , sabtu sore pukul 16.00 akan digelar Bedah buku "Ketika Cinta bertasbih 2" oleh sang maestero Kang Abik, begitu ia biasa disapa hadir sore itu dengan wajah yang tenang. Ternyata waktu Bedah buku yang diselenggarakan oelh Indonesia Bookfair tak cukup menenuhi Animo pengunjung yang ada - tak heran begitu pengunjung yang membludak menempati tak cukup Panggung Penuh dengan pengunjung , karena kursi yang tersedia penuh , tak Ragu karpet merah pembatas Panggung Utama dan kursi pengunjung jadi Santapan bagi pengunjung yang tidak kebagian tempat - termasuk aku - yang harus sedikit merayu sahabat ku untuk mau duduk tertikarkan karpet merah sore itu - :)
Subhanallah
Tak heran Novel ini begitu di tunggu karena ini memang sengaja di hold beberapa saat untuk alasan mendobrak penjualan karena sesudah laris dengan KCB1 Republika malah menurukan dibawah mihrab cinta dan sesetelah bulan Syawal berakhir novel ini baru dicetak.
buat seorang kawan : Syukron for your present & afwan, Allah belum menakdirkan kita untuk bertemu di Bookfair kemarein , mungkin suatu hari nati .
Ketika cinta bertasbih Part 2 dapat diperoleh di Republika Stand pas Book Fair 2007 kemarin Harga pada saat Bookfair Rp.42.000 (Price after Discount) or di Toko toko buku terkemuka Harga Normal Rp 49.500 ,-
oleh2 dari bookfair Taken from Indonesia BookFair ke 27, Jakarta 14 Nov 2007 - 18 Nov 2007.
Sabar dan Shalat, Sebuah Harmoni
Alloh SWT berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar". (QS Al Baqarah [2]: 153).
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. sabar ".(QS Al Baqarah [2]: 155).
Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat". Demikian sabda Rasulullah SAW. Hadis ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya peranan shalat bagi seorang Muslim, sampai detail gerakan dan bacaannya dicontohkan langsung oleh beliau.
Sejatinya, shalat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir, olah gerak, dan olah rasa (sensibilitas). Ketiganya terpadu secara cantik dan selaras. Kontemplasi dan riyadhah yang terintegrasi sempurna, saling melengkapi dari dimensi perilaku/lisan (al bayan), respons motorik, rasionalitas (menempatkan diri secara proporsional), dan kepekaan terhadap jati diri--kepekaan dan kehalusan untuk merasakan cinta dan kasih sayang Allah SWT.
Yang menarik, Alquran kerap menggandengkan ritual shalat dengan sikap sabar. Salah satunya dalam QS Al Baqarah [2] ayat 153, Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Mengapa Sabar dan Shalat? Secara etimologi, sabar (ash shabr) dapat diartikan dengan "menahan" (al habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]:22),
"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
Sabar termasuk kata yang banyak disebutkan Alquran. Jumlahnya lebih dari seratus kali. Tidak mengherankan, karena sabar adalah poros sekaligus asas segala macam kemuliaan akhlak. Muhammad Al Khudhairi mengungkapkan bahwa saat kita menelusuri kebaikan serta keutamaan, maka kita akan menemukan bahwa sabar selalu menjadi asas dan landasannya. 'Iffah [menjaga kesucian diri] misalnya, adalah bentuk kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat. Syukur adalah bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan. Qana'ah [merasa cukup dengan apa yang ada] adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan. Hilm [lemah-lembut] adalah kesabaran dalam menahan dan mengendalikan amarah. Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam. Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya. Semuanya saling berkaitan. Faktor-faktor pengukuh agama semuanya bersumbu pada kesabaran, hanya nama dan jenisnya saja yang berbeda.
Cakupan sabar ternyata sangat luas. Tak heran jika sabar bernilai setengah keimanan. Sabar ini terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah, bencana atau kesusahan. Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat. Ketiga, sabar dalam menjalankan ketaatan.
Tidak berputus asa saat menghadapi hal yang tidak mengenakan merupakan tingkat terendah dari kesabaran. Satu tingkat di atasnya adalah sabar untuk menjauhi maksiat serta sabar dalam berbuat taat. Mengapa demikian? Sabar menghadapi musibah sifatnya idhthirari alias tidak bisa dihindari. Pada saat ditimpa musibah, seseorang tdak memiliki pilihan kecuali menerima cobaan tersebut dengan sabar. Tidak sabar pun musibah tetap terjadi. Lain halnya dengan sabar menjauhi maksiat dan melaksanaan taat, keduanya bersifat ikhtiari atau bisa dihindari. Di sini manusia "berkuasa" melakukan pilihan, bisa melakukan bisa pula tidak. Biasanya ini lebih sulit.
Secara psikologis kita bisa memaknai sabar sebagai sebuah kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Dengan kata lain, sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]: 22).
Jiwa yang Tenang Salah satu ciri orang sabar adalah mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputusasaan, melainkan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi di mana kita harus "marah" misalnya, maka marahlah secara bijak serta diniatkan untuk mendapatkan kebaikan bersama. Karena itu, mekanisme sabar dapat melembutkan hati, menghantarkan sebuah kemenangan yang manis atas dorongan syaithaniyah untuk menuruti ketidakseimbangan pemuasan hawa nafsu.
Dalam shalat dan sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs menjadi motivasi yang bersifat muthma'innah. Jiwa muthma'innah atau jiwa yang tenang inilah yang akan memiliki karakteristik malakut untuk mengekspresikan nilai-nilai kebenaran absolut. Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya(QS Al Fajr [89]: 27-28).
27. Wahai jiwa yang tenang 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Orang-orang yang memiliki jiwa muthma'innah akan mampu mengaplikasikan nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada, pandai menjaga kesucian diri, serta konsisten.
Tak heran bila Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan shalat sebagai istirahat, sebagai sarana pembelajaran, pembangkit energi, sumber kekuatan, dan pemandu meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki berlimpah, shalatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup semakin berat, shalatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu, shalatlah pelepasannya. Khubaib bin Adi dapat kita jadikan teladan. Saat menghadapi dieksekusi mati di tiang gantungan, Abu Sufyan memberinya kesempatan untuk mengatakan keinginan terakhirnya. Apa yang ia minta? Khubaib minta shalat. Permintaan itu dikabulkan.
Dengan khusyuk ia shalat dua rakaat. "Andai saja aku tidak ingin dianggap takut dan mengulur-ulur waktu, niscaya akan kuperpanjang lagi shalatku ini!" ungkap Khubaib saat itu.
Ya, shalat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri shalat berkualitas adalah terjadinya dialog dengan Allah sehingga melahirkan ketenangan dan kedamaian di hati. Komunikasi dengan Allah tidak didasari "titipan" kepentingan. Dengan terbebas dari gangguan "kepentingan" tersebut, insya Allah shalat kita akan mencapai derajat komunikasi tertinggi. Siapa pun yang mampu merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah SWT, hingga berbuah pengalaman spiritual yang dalam, niscaya ia tidak akan sekali melalaikan shalat. Ia rela kehilangan apa pun, asal tidak kehilangan shalat. Jika sudah demikian, pertolongan Allah pasti akan datang. Wallaahu a'lam
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Laksanakan selalu 7 Sunnah harian : Sholat Tahajjud, Membaca Al Qur'an; Subuh di Masjid, Istighfar; Sholat Dhuha, Bersedekah, Jaga Wudhu terus menerus
| |